Sabtu, 27 September 2014

IDENTIFIKASI LIMBAH PADAT


IDENTIFIKASI LIMBAH PADAT
I.                   TUJUAN PERCOBAAN
Mengidentifikasi limbah padat untuk menentukan proses pengolahannya lebih lanjut

II.                ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Kamera
Alat tulis
Contoh-contoh limbah

III.             DASAR TEORI
Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampat atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bias menjasi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika dip roses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bias berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bias menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.
Limbahn berdasarkan nilai ekonomisnya dirinci menjadi limbahn yang mempunyai nilai ekonomis dan limbah nonekonomis.
Limbah ekonomis yaitu limbah dengan proses lanjut akan memberikan nilai tambah. Misalnya: tetes merupakan limbah pabrik gula. Tetes menjadi bahan baku umtuk pabrik alcohol. Ampas tebu dapat dijadikan bahan baku untuk pabrik kertas, sebab ampas tebu melalui proses sulfinasi dapat menghasilkan bubur pulp. Banyak lagi limbah pabrik tertentu yang dapat diolah untuk menghasilkan produk baru dan menciptakan nilai tambah.
Limbah nonekonomis adalah limbah yang diolah dalam proses bentuk apapun tidak akan memberikan nilai tambah, kecualu mempermudah system pembuangan. Limbah jenis ini sering menjadi persoalan pencemaran dan merusak lingkungan.
Dilihat dari sumber limbah dapat merupakan hasil sampingan dan juga dapat merupakan semacam “katalisator” sesuai dengan sifatnya, limbah digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu: limbah cair, limbah gas/asap dan limbah padat.
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Sejalan dengan peningkatan penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar. Secara umum komposisi dari sampah di setiap kota bahkan hampir sama yaitu:

Kerta dan katun                                  : 35%
Logam                                                 : 7%
Gelas                                                   : 5%
Sampah halaman dan dapur                : 37%
Kayu                                                   : 3%
Plastic, karet, dan kulit                       : 7%
Lain-lain                                              : 6%
                  CARA MENANGGULANGI PEMCEMARAN
                        Untuk menanggulangi pencemaran akibat penumpukan sampah itu dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti melalui program 3R yaitu Reduce, Reuse, Recycle.
1.      Reduce artinya mengurangi atau mereduksi sampah yang akan terbentuk. Hal ini dapat dilakukan bila ibu-ibu rumah tangga kembali ke pola lama yaitu membawa keranjang belanja ke pasar.

Dengan demikian jumlah kantong plastic yang dibawa ke rumah akan berkurang (tereduksi). Selain itu bila setiap orang menggunakan kembali saputangan dari pada tissue, disamping akan mengurangi sampahnya, dengan tidak menggunakan tissue dapat terjadi penghematan terhadap bahan baku untuk tissue, yang tidak lain adalah kayu dari hutan. Kalau setiap orang melakukan hal tersebut beberapa ton sampah yang akan tereduksi per bulan dan beberapa hasil huatn yang dapat diselamatkan.
2.      Reuse adalah program pemakaian kembali sampah yang sudah terbentuk seperti penggunaan bahan-bahan plastik/kertas bekas untuk benda-benda souvenir, bekas ban untuk tempat pot atau kursi taman, botol-botol minuman yang telah kosong diisi kembali dan sebagainya.
3.      Recycle agak berbeda dengan kedua program sebelumnya. Dalam hal ini sampah sebelum digunakan perlu diolah ulang terlebih dahulu. Bahan-bahan yang dapat direcycle atau didaur ulang seperti kertas atau sampah bekas pecahan-[ecahan gelas atau kaca, besi atau logam bekas dan sampah organic yang berasal dari dapur atau pasar dapat didaur ulang menjadi kompos (pupuk). Proses daur ulang ini juga dapat mengubah sampah menjadi energy panas yang dikenal dengan proses insenerasi. Insenerasi sederhana sudah ada yang melakukan oleh beberapa industry missal di Jakarta, yaitu dibuang ke tanah tetapi digunakan sebagai bahan bakar setelah mengalami pengeringan.

Dampak yang dihasilkan dari pembuangan berbagai jenis limbah adalah:
-          Senyawa organik yang dapat membusuk karena diuraikan oleh mikroorganisme, seperti sisa-sisa makanan, daun, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati.

-          Senyawa organik dan senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme seperti plastic, serat, keramik, kaleng-kaleng dan bekas bahan bangunan, menyebabkan tanah menjadi kurang subur.
-          Pencemar udara berupa gas yang larut dalam air hujan seperti oksida nitrogen (NO dan NO2), oksida belerang (SO2 dan SO3), oksida karbon (CO dan CO2), menghasilkan hujan asam yang akan menyebabkan tanah bersifat asam dan merusak kesuburan tanah/tanaman.
-          Pencemar berupa logam-logam berat yang dihasilkan dari limbah industry seperti Hg, Zn, Pb, Cd dapat mencemari tanah.
-          Zat radioktif yang dihasilkan dari PLTN, reakstor atom atau dari percobaan lain yang menggunakan atau menghasilkan zat radioaktif. Misalnya unsure Sr-90 sebagai hasil fisi nuklir dapat mempengaruhi perkembangan xylem pada tumbuh-tumbuhan tulang hewan, akan menyebabkan jaringan tubuh menjadi lemah adalah bahan radioaktif masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya dapat menyebabkan kematian pada makhluk yang memakannya.

TEORI TAMBAHAN
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca,organik, bakteri, kulit telur, dll. Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula, pulp,kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging.
Secara garis besar limbah padat terdiri dari :
1) Limbah padat yang mudah terbakar.
2) Limbah padat yang sukar terbakar.
3) Limbah padat yang mudah membusuk.
4) Limbah yang dapat di daur ulang.
5) Limbah radioaktif.
6) Bongkaran bangunan.
7) Lumpur.
Faktor – faktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat tersebut adalah sebagai berikut :
1.       Jumlah Limbah
Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri. Banyak dapat  membutuhkan
penanganan khusus tempat dan sarana pembuangan.
2.       Sifat fisik dan kimia limbah
Sifat fisik mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana penggankutan dan pilihan pengolahannya. Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.
3.      Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka terhadap pencemaran,maka perlu kita perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA), unsur yang akan terkena, dan tingkat pencemaran yang akan timbul.
4.       Tujuan akhir dari pengolahan
Terdapat tujuan akhir dari pengolahan yaitu bersifat ekonomis dan bersifatnon-ekonomis. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain.Sedangkan tujuan pengolahan yang bersifat non-ekonomis adalah untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan
 PEMANFAATAN LIMBAH
1.      Limbah plastik
Limbah plastik biasanya digunakan sebagai pembungkus barang. Plastik juga digunakan sebagai perabotan rumah tangga seperti ember, piring, gelas, dan lain sebagainya. Keunggulan barang-barang yang terbuat dari plastik yaitu tidak berkarat dan tahan lama. Banyaknya pemanfaatan plastik berdampak pada banyaknya sampah plastik. Padahal untuk hancur secara alami jika dikubur dalam tanah memerlukan waktu yang sangat lama. Cobalah kalian kubur sampah plastik selama beberapa bulan, kemudian gali lagi penutup tanahnya dapat dipastikan bahwa plastik tersebut akan tetap utuh. Karena itu, upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan limbah plastik untuk didaur ulang menjadi barang yang sama fungsinya dengan fungsi semula maupun digunakan untuk fungsi yang berbeda. Misalnya ember plastik bekas dapat didaur ulang dan hasil daur ulangnya setelah dihancurkan dapat berupa ember kembali atau dibuat produk lain seperti sendok plastik, tempat sampah, atau pot bunga. Plastik dari bekas makanan ringan atau sabun deterjen dapat didaur ulang menjdai kerajinan misalnya kantong, dompet, tas laptop, tas belanja, sandal, atau payung. Botol bekas minuman bisa dimanfaatkan untuk membuat mainan anak-anak. Sedotan minuman dapat dibuat bunga-bungaan, bingkai foto, taplak meja, hiasan dinding atau hiasan-hiasan lainnya.
2.     Limbah logam
Sampah atau limbah dari bahan logam seperti besi, kaleng, alumunium, timah, dan lain sebagainya dapat dengan mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita. Sampah dari bahan kaleng biasanya yang paling banyak kita temukan dan yang paling mudah kita manfaatkan menjadi barang lain yang bermanfaat. Sampah dari bahan kaleng dapat dijadikan berbagai jenis barang kerajinan yang bermanfaat. Berbagai produk yang dapat dihasilkan dari limbah kaleng di antaranya tempat sampah, vas bunga, gantungan kunci, celengan, gift box, dan lain-lain.

3.      Limbah Gelas atau Kaca
Limbah gelas atau kaca yang sudah pecah dapat didaur ulang menjadi barang-barang sama seperti barang semula atau menjadi barang lain seperti botol yang baru, vas bunga, cindera mata, atau hiasan-hiasan lainnya yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis.

4.      Limbah kertas
Sampah kertas kelihatannya memang mudah hancur dan tidak berbahaya seperti sampah plastik. Namun walau bagaimanapun yang namanya sampah pasti menimbulkan masalah jika berserakan begitu saja. Sampah dari kertas dapat didaur ulang baik secara langsung ataupun tak langsung. Secara langsung artinya kertas tersebut langsung dibuat kerajinan atau barang yang berguna lainnya. Sedangkan secara tak langsung artinya kertas tersebut dapat dilebur terlebih dahulu menjadi kertas bubur, kemudian dibuat berbagai kerajinan. 

     Hasil daur ulang kertas banyak sekali ragamnya seperti kotak hiasan, sampul buku, bingkai photo, tempat pinsil, dan lain sebagainya.

5.      Pemanfaatan Sampah Organik
Sedangkan, sampah organik yang tidak dapat didaur ulang contohnya yaitu sisa makanan, sayur-sayuran, daun-daunan, buah-buahan, kotoran ternak, ampas tebu, dll. Kelihatannya sampah-sampah tersebut sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi dan dibiarkan menumpuk dan membusuk. Padahal sebenarnya sampah jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos/pupuk organik atau sumber bahan organik tanah dalam meningkatkan produktivitas pertanian, untuk pembuatan vermi kompos (pengomposan dengan cacing), dan dapat juga dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutrisi-nutrisi yang ada ke tanah. Solusi lain yaitu dengan menerapkan teknologi anerobik untuk menghasilkan biogas. Sampah organik juga merupakan bahan pembuatan bioethanol.


IV.              PROSEDUR PERCOBAAN
a.       Mempelajari materi limbah padat
b.      Menuliskan nama-nama hasil limbah padat yang telah di tentukan berdasarkan karekteristik sebagai berikut
Warna
Bentuk
Aroma
Kandungan
c.       Menuliskan pemanfaatan limbah tersebut sebanyak yang diketahui, baik berdasarkan literature ataupun pengalaman















V.                ANALISA PENGAMATAN
Pada percobaan praktikum kali ini, kami melakukan penelitian mengenai identifikasi limbah padat. Limbah padat sering disebut dengan sampah. Sampah merupakan hasil buangan berupa padatan dari suatu pengolahan. Apabila sampah tidak diolah dan dilakukan penanggulangan maka akan membawa dampak bagi alam dan manusia. Kami melakukan identifikasi padat yang ada di sekitar laboratorium teknik kimia, bengkel mesin, bengkel sipil dan bengkel elektro.                                                                                                            Pada laboratorium kimia sampah yang dihasilkan berupa sampah sarung tangan, masker, berbagai peralatan kimia seperti kertas saring dan pecahan kaca. Penanganan yang cocok untuk sampah jenis ini adalah dengan pembakaran. Karena sampah jenis ini banyak mengandung bahan kimia sehingga tidak disarankan melakukan daur ulang (recycle).                                                                                    Pada bengkel mesin, sampah yang dihasilkan berupa serbuk besi dan serbuk kayu. Penanganan yang tepat adalah dengan melakukan recycle, sehingga dapat dibentuk menjadi benda yang bernilai dengan cara peleburan. Sedangkan pada serbuk kayu bisa dijadikan bahan untuk membuat kompos.                                                              Pada bengkel sipil kami menemukan sampah yang tidak jauh berbeda dengan bengkel mesin., yaitu berupa serbuk kayu, pecahan semen dan keramik. Sisa – sisa semen tidak dapat didaur ulang, namun dapat dikurangi pemakaiannya sedangkan pecahan keramik dapat dijadikan hiasan yang bernilai ekonomis.                                                Pada bengkel elekro kami menemukan sisa kabel, pecahan kaca dan bola lampu, pecahan ini dapat didaur ulang dan dijadikan bentu yang bernilai, seperti souvenir.                                                                             Yang terakhir kami mengunjungi kantin, kami menemukan banyak sampah plastik, dan sisa makanan. Sampah plastik dan kaleng dapat di daur ulang sedan gkan sisa makanan dapat terurai.


VI.             KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
1.       Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan.
2.      Untuk menanggulangi pencemaran akibat penumpukan sampah dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti melalui program 3R yaitu Reduce, Reuse, Recycle.
3.      Limbah plastik dan kaleng dapat didaur ulang menjadi tas, dompet, bunga-bungaan dan lain-lain
4.      limbah gelas atau kaca dapat didaur ulang menjadi botol yang baru, vas bunga, cindera mata, atau hiasan-hiasan lainnya yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis.
5.      Limbah serbuk besi dapat direcycle sedangkan serbuk kayu dapat dijadikan bahan pupuk kompos.











DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet.2012.”Petunjuk Praktikum Satuan Operasi”.Politeknik Negeri Sriwijaya: Palembang
http://kiarapedes2.blogspot.com/2011/02/pemanfaatan-limbah-anorganik.html
http://enokusuma.wordpress.com/2009/06/13/karya-ilmiah/
http://id.scribd.com/doc/34144034/PENGERTIAN-LIMBAH-PADAT
















LAPORAN PRAKTIKUM
 TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH
IDENTIFIKASI LIMBAH PADAT
logo-politeknik-negeri-sriwijaya.jpg
OLEH :
                                                Dara Cita Mammoria   : 06133040 1010
                                                M. Dzikriansya Imron  : 06133040 1013
Maryama Nancy H      : 06133040 1015
Rena Nuryana              : 06133040 1019
Sarah Swasti Putri        : 06133040 1024
                                                Vinta Mefisa                : 06133040 1028

KELOMPOK III (2KD)
DOSEN PEMBIMBING : Ir. Sofiah, M.T.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
     2014


GAMBAR PERALATAN

https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTXFPof4LX4U1uUwL9zCwFe1XAwN1JJTfsJg1xaJtdlc41JHYJybQ                    https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTcZsCDAfBUBS9K52IPPqmTT-30Vl0mGCP25ho94wo0P5mwFhcvsA
    Pencil                                                                      Pena


https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQOlWoG1a5dw7i7Kkc-CP1Ff_xVhXfzmLC7NUVAX2Cpi08oaoZe


Kamera 

konduktometer 2


KONDUKTOMETRI 2

     I.     TUJUAN PERCOBAAN

Setelah melakukan percobaan, kami mampu :
• Menentukan daya hantar listrik suatu larutan
• Menentukan ekivalen titrasi

  II.     ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

Alat yang digunakan :
·         Konduktometer 660                                                         1 buah
·         Elektroda emmension cell dengan konstanta cell o,78    1 buah
·         Magnetik stirrer                                                                1 buah
·         Gelas kimia 250ml, 100ml                                               1, 3 buah
·         Pipet ukur 10ml                                                                1 buah
·         Labu ukur 100ml, 250ml                                                  2, 1 buah

Bahan yang digunakan :
·         Larutan NaOH 0,1 M                  50 ml
·         Larutan HCL 0,1 M                     50 ml
·         Larutan KCL 0,1 M                     100 ml


III.            DASAR TEORI
Pengukuran konduktivitas dapat juga digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Titrasi konduktometri dapat dilakukan dengan dua cara dan tergantung pada frekuensi arus yang digunakan. Jika arus frekuensinya bertambah besar, maka kapasitas dan induktif akan semakin besar. 
Konduktometri merupakan salah satu metode analisis yang berdasarkan daya hantar larutan. Daya hantar ini bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Menurut hokum ohm arus (I) berbanding lurus dengan potensial listrik (E) yang digunakan, tetapi berbanding terbalik dengan tahanan listrik (R).

I = E / R
G = I / R

Daya hantar (G) merupakan kebalikan dari tahan yang mempunyai satuan ohm atau Siemens (S), bila arus listrik dialirkan ke suatu larutan melalui luas bidang elektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda (I), maka:

G = I / R = k x A / I

Dimana:
A / I = tetapan sel
K = daya hantar arus (konduktivitas) dengan satuan SI ohm cm-1 atau s cm-1


Titrasi yang dapat dilakukan adalah:
-  Titrasi konduktometri yang dilakukan dengan frekuensi arus rendah (maksimum 300 Hz) 
-  Titrasi konduktometri yang dilakukan dengan frekuensi arus tinggi yang disebut titrasi frekuensi tinggi


Titrasi konduktometri frekuensi arus rendah

Penambahan suatu elektrolit lain pada keadaan yang tidak ada perubahan volum yang begitu besar akan mempengaruhi konduktivitas larutan karena akan terjadi reaksi ionik atau tidak. Jika terjadi reaksi ionik akan terjadi perubahan konduktivitas yang cukup besar sehingga dapat diamati reaksi yang terjadi, seperti pada titrasi asam kuat dan basa kuat. Pada titrasi ini terjadi penurunan konduktivitas karena terjadinya penggantian ion yang mempunyai konduktivitas rendah.
Pada titrasi penetralan, pengendapan, penentuan titik akhir titrasi ditentukan berdasarkan konduktivitas dari reaksi kimia yang terjadi. Hantaran diukur pada setiap penambahan sejumlah pereaksi pengukuran titik akhir titrasi berdasarkan dua alur garis yang saling berpotongan. Titik potong ini disebut titik ekivalen.
Secara praktek, konsentrasi penitran 20-100 kali lebih pekat dari larutan yang dititrasi, kelebihan dari titrasi ini, baik untuk asam yang sangat lemah yang secara potensiometri tidak dapat dilakukan dengan cara koduktometri dapat dilakukan, selain itu secara konduktometri contoh suhu tidak perlu dilakukan.



Titrasi konduktometri frekuensi arus tinggi
Titrasi ini sesuai untuk sel yang terdiri atas sistem reaksi yang dibuat bagian atau dipasang sirkuit osilator berionisasi pada frekuensi beberapa MHz. Keuntungan cara ini antara lain elektroda ditempatkan diluar sel dan tidak langsung kontak dengan zat lain, sedangkan kerugiannya respon tidak spesifik karena tidak bergantung pada hantaran dan tetapan dielektrik dari sistem, selain itu tidak dipengaruhi oleh sifat kimia dari komponen-komponen system.

IV. PROSEDUR KERJA

a.      Kalibrasi konduktometer
·         Memasang sel konduktometer pada socket “ cond cell ” dengan socket berwarna hitam
·         Memasang resistance thermometer pt-100 pada socket warna merah
Menghidupkan alat konduktometer
·         Mengecek harga konstanta cell pada elektroda emmension cell, memasukkan harga 1,00 pada “cell const” dan tekan tombol x1
·         Memasukkan harga temperature pada “ temp “ dengan menekan tombol “ temp “ dapat dilihat dari tabel, jika tidak ada dalam tabel masukkan harga 2
·         Menggunakan frekuensi 2 KHz (tombol tidak ditekan) 
·         Mengisi gelas kimia 50ml dengan KCl 1 nN dan memasukkan elektroda ke dalamnya
·         Mengatur temperature larutan sesuai dengan tabel atau menakan tombol “ temp
·         Memasukkan harga K pada suhu laruutan untuk menghitung konstanta cell (K) 
K = K tabel pada temp T / (K) pengukuran
·         Mengkalibrasi telah selesai dan dicatat harga konduktivitas harga larutan KCl 1 N
·         Menentukan konduktivitas larutan KCl 0,1 N (sesuai instruksi)

Tabel Harga λ untuk anion dan kation
Kation
λ (S.cm2.. mol-1)
Anion
λ (S.cm2.. mol-1)
H+
Na+
K+
NH4+
349,8
50,1
73,5
73,5
OH-
Cl-
I-
CH3COO-
C2O42-
HCO3
198,3
76,3
76,8
40,9
74,2
44,5



Tabel Harga K untuk penentuan tetapan sel
T(0C)
Ktabel (ms/cm)
T(0C)
Ktabel (ms/cm)
0
10
15
20
21
22
23
7,15
9,33
10,48
11,67
11,91
12,15
12,39
24
24
26
27
28
29
30



b.      Titrasi konduktometri 
·         Membuat larutan NaOH 0,1 N sebanyak 50ml
·         Membuat larutan HCl 0,1 N sebanyak 50ml
·         Memipet 10ml larutan NaOH sebanyak 10ml, memasukkan ke dalam gelas kimia 250ml dan menambahkan aquadest sebanyak 200ml (elektroda tenggelam)
·         Meletakkan larutan NaOH diatas hot plate (jangan menghidupkan pemanas)
·         Mengaduk larutan NaOH dengan magnetic stirrer 
Melakukan penambahan HCl 0,1 N sebanyak 1ml-20ml (dengan kenaikan 1ml), pada saat penambahan HCL posisi tombol pada posisi “ kond “ dan membaca konduktiviitas pada display setiap penambahan HCl
Setelah didapat kurva yang diinginkan, menghitung konsentrasi NaOH
Melakukan titrasi asam basa yang lain (sesuai perintah instruktur)

Evaluasi
Untuk menghitung konsentrasi larutan NaOH digunakan persamaan:

V1C1 = V2C2

Dimana:
V1 = volume larutan HCl
V2 = volume larutan NaOH
C1 = konsentrasi larutan HCl
C2 = konsentrasi larutan NaOH






V. DATA PENGAMATAN

a.     Konduktivitas NaOH dengan penambahan HCl


No.
Volume NaOH + HCl
Cond teori (ms/cm)
Cond praktik ( ms/cm)
1
210 ml NaOH + 0 ML HCl
1,182
1,148
2
210 ml NaOH + 1 ML HCl
1,146
1,143
3
211 ml NaOH + 1 ML HCl
1,016
1,001
4
212 ml NaOH + 1 ML HCl
0,898
0,929
5
213 ml NaOH + 1 ML HCl
0,785
0,860
6
214 ml NaOH + 1 ML HCl
0,657
0,791
7
215 ml NaOH + 1 ML HCl
0,541
0,727
8
216 ml NaOH + 1 ML HCl
0,425
0,660
9
217 ml NaOH + 1 ML HCl
0,388
0,634
10
218 ml NaOH + 1 ML HCl
0,192
0,613
11
219 ml NaOH + 1 ML HCl
0,328
0,692
12
220 ml NaOH + 1 ML HCl
0,520
0,976
13
221 ml NaOH + 1 ML HCl
0,710
1,191









b.    Konduktivitas HCl dengan penambahan NaOH


No.
Volume HCl + NaOH
Cond teori (ms/cm)
Cond praktik (ms/cm)
1
210 ml HCl + 0 ML NaOH
2,029
2,080
2
210 ml HCl + 1 ML NaOH
1,811
2,020
3
211 ml HCl + 1 ML NaOH
1,607
1,980
4
212 ml HCl + 1 ML NaOH
1,399
1,850
5
213 ml HCl + 1 ML NaOH
1,193
1,607
6
214 ml HCl + 1 ML NaOH
0,991
1,403
7
215 ml HCl + 1 ML NaOH
0,789
1,268
8
216 ml HCl + 1 ML NaOH
0,590
1,115
9
217 ml HCl + 1 ML NaOH
0,327
0,970
10
218 ml HCl + 1 ML NaOH
0,193
0,835
11
219 ml HCl + 1 ML NaOH
0
0,715
12
220 ml HCl + 1 ML NaOH
0,111
0,690
13
221 ml HCl + 1 ML NaOH
0,224
0,748
14
222 ml HCl + 1 ML NaOH
0,334
0,845
15
223 ml HCl + 1 ML NaOH
0,443
0,929
16
224 ml HCl + 1 ML NaOH
0,551
1,031
17
225 ml HCl + 1 ML NaOH
0,660
1,127
18
226 ml HCl + 1 ML NaOH
0,765
1,226
19
227 ml HCl + 1 ML NaOH
0,872
1,320
20
228 ml HCl + 1 ML NaOH
0,977
1,405
21
229 ml HCl + 1 ML NaOH
1,080
1,497




















                                                                                             





















VI. PERHITUNGAN

  1. Pembuatan larutan
1.      KCl 100 ml 0,1M
Gr        = M X V X BM
            = 0,1 M X 0,1L X 74,5 gr/mol
            = 0,745 gr

Konsentrasi yang dibuat :
M         = gr / V(BM)
            = 0,7447 gr / 0,1L(74,5 gr/mol)
            = 0,0999 M

2.      NaOH 50 ml 0,1 M
Gr        = M X V X BM
            = 0,1 M X 0,05L X 40 gr/mol
            = 0,2 gr

Konsentrasi yang dibuat :
M         = gr / V(BM)
            = 0,2151 gr / 0,05L(40 gr/mol)
            = 0,1075 M

3.      HCl 0,1M 50 ml
M1V1              = M2V2
0,5M(V1)        = 50 ml (0,1M)
            V1       =  10 ml

  1. Konduktivitas secara teori
1.      HCl sebagai titran
mmol HCl       = V HCl  X M HCl
                        = 1 ml( 0,1 M)
                        = 0,1 mmol
Mmol NaOH   = V NaOH  X M NaOH
                        = 10 ml( 0,107 M)
                        = 1,07 mmol


NaOH
HCl
m
1,07
0,1
b
-0,1
-0,1
s
0,97
-



L Na+ = 50,1 Scm2 . mol-1 X 0,97 M / 211 ml
            = 0, 231 ms/cm

L OH -             = 198,3 Scm2 . mol-1 X 0,97 M / 211 ml
            = 0,915 ms/cm

L NaOH          = ( 0,231 + 0,915) ms/cm
                        = 1,146 ms/cm

2.      NaOH sebagai titran

mmol NaOH   = V NaOH  X M NaOH
                        = 1 ml( 0,107 M)
                        = 0,107 mmol
Mmol HCl       = V HCl  X M HCl
                        = 10 ml( 0,1 M)
                        = 1 mmol



HCl
NaOH
m
1
0,107
b
0,107
0,107
s
0,9
-

L H+    = 349,8 Scm2 . mol-1 X 0,9 M / 211 ml
            = 1, 492 ms / cm

L Cl-    = 76, 3 Scm2 . mol-1 X 0,9 M / 211 ml
            = 0,325 ms / cm

L HCl  = ( 1,492 + 0,325) ms/cm
            = 1,817 ms/cm








VII. ANALISA PERCOBAAN

            Dari percobaan yang telah di lakukan, dapat di analisa, bahwa di dalam titrasi konduktometri kita akan mendapatkan beberapa kemudahan yang mungkin tidak kita dapatkan jika kita menggunkan dengan titrasi lainya, misal tidak menggunakan indikator, karena dalam titrasi konduktometri ini kita hanya mengukur daya hantar larutan. titrasi konduktometri hanya terbatas untuk larutan yang tergolong kedalam larutan elektrolit saja. Sedangkan untuk larutan non elektrolit tidak dapat menggunakan titrasi konduktometri. Titrasi konduktometri ini sangat berhubungan dengan daya hantar listrik, jadi juga akan berhubungan dengan adanya ion – ion dalam larutan yang berperan untuk menghantarkan arus listrik dalam larutan. Arus listrik ini tidak akan bisa melewati larutan yang tidak terdapat ion-ion, sehingga larutan non elektrolit tidak bisa menghantarkan arus listrik.
            Pada percobaan ini, sel konduktansi dibilas dengan aquades agar alat yang digunakan bebas dari ion-ion yang mengganggu serta untuk menetralkan alat sehingga tidak dipengaruhi oleh pengukuran sebelumnya. Pada percobaan ini, dilakukan penentuan titik ekuivalen antara larutan HCl dan larutan NaOH dimana kedua larutan ini, merupakan penghantar listrik yang baik.
Setiap proses titrasi, (penambahan NaOH 1 ML ataupun HCl 1 ML) dilakukan proses pengadukan dengan magnetik stirer. Hal ini dilakukan agar dapat mengoptimalkan kemampuan daya hantar listriksehingga ionnya dapat menyebar merata. Dari hasil percobaan dapat di lihat nilai konduktivitas dari NaOH berbanding lurus dengan konsentrasi NaOH. Hal ini dapat terjadi karena Konduktivitas suatu larutan elektrolit pada setiap temperature hanya bergantung pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut.       Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa “Volume HCl vs Konduktivitas Larutan”, bentuk grafiknya turun naik. Dimana, semakin mendekati titik ekivalen maka grafiknya menurun. Namun, jika melewati titik ekivalen maka grafiknya naik kembali.  Hal ini terjadi karena  semakin banyak volume peniter yang digunakan maka konduktivitas larutan akan semakin menurun, namun penambahan volume peniter secara terus menerus akan mengakibatkan konduktivitas larutan semakin naik karena volume peniter akan semakin jenuh di dalam larutan.
            Dari data yang telah didapat, ternyata konduktivitas praktik berbanding lurus dengan konduktivitas teori. Konduktivitas teori maupun praktik dengan penambahan HCl mencapai ekivalen saat penambahan 218 ml NaOH dan 1 ml HCl atau saat penambahan sebanyak 10 ml, sedangkan Konduktivitas teori maupun praktik dengan penambahan NaOH mencapai ekivalen saat penambahan 219 ml HCl dan 1 ml NaOH atau saat penambahan sebanyak 12 ml.



VIII. KESIMPULAN
            Dari praktikum yang telah di lakukan, dapat disimpulkan, bahwa :
  • Konduktometri merupakan salah satu metode analisis yang berdasarkan daya hantar larutan
  • Konduktivitas praktik berbanding lurus dengan konduktivitas teori.
  • Semakin mendekati titik ekivalen maka grafiknya menurun. Namun, jika melewati titik ekivalen maka grafiknya naik kembali. 
  • Titik ekivalen NaOH dengan penambahan HCl 10 ml, sedangkan titik ekivalen HCl dengan penambahan NaOH 12 ml.


IX. DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet:2014 “Penuntun Praktikum Inst & Teknik Pengukuran” Palembang, Politeknik Negeri Sriwijaya.


























X. GAMBAR ALAT


              


          Bola karet                                  spatula

                         
gelas kimia                                          Kaca arloji            


                         
                        thermometer                                        pipet ukur






                   
Pipet tetes                                           botol aquadest

                                     
     labu ukur                                             Konduktometri 660


















LAPORAN PRAKTIKUM
INST & TEKNIK PENGUKURAN
(KONDUKTOMETRI 2)



OLEH :

Nama                                       : Dara Cita Mammoria   ( 061330401010)
                                         M. Dzikrieansyah I      ( 061330401013)
  Maryama Nancy H      ( 061330401015)
                                         Rena Nuryana              ( 061330401019)
                                         Rifqi Munip                 ( 061330401022)
                                         Sarah Swasti Putri       ( 061330401024)
Kelas                              : 2KD
Dosen pembimbing        : Anerasari Meidinariasty, B.Eng.,M.Si.




POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2014