LAPORAN TETAP KIMIA FISIKA
ISOTERM FREUNLICH
(ISOTERM ADSORBSI FREUNLICH)

OLEH :
Kelompok III
Nama Anggota : Rifqi munip
(061330401022)
Riska (061330401023)
Sarah swasti putri (061330401024)
Siti nurjanah (061330401025)
Tri utami putri (061330401026)
Vinta mefisa (061330401028)
Kelas : 2 KD
Instruktur : Ir. Abu Hasan , M.Si.
LABORATORIUM TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG
2014
ISOTERM FREUNLICH
(ISOTERM ADSORBSI
FREUNLICH)
I.
TUJUAN
-
Dapat mempelajari proses
adsorbsi karbon aktif dengan larutan asam organik.
-
Dapat menentukan besarnya
tetapan Isoterm absorbsi Freunlich.
II.
ALAT DAN BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN
Alat-alat yang digunakan :
-
Erlenmeyer 250 ml 5
buah
-
Corong gelas 5
buah
-
Gelas ukur 100 ml 5
buah
-
Buret 50 ml 2
buah
-
Labu ukur 2
buah
-
Kertas saring 5
buah
-
Pipet ukur 10 ml, 25 ml 1,1
buah
-
Bola karet 2
buah
Bahan kimia yang digunakan :
-
Asam Oksalat 1M, 0,8M, 0,6M,
0,4M, 0,2M
III.
DASAR TEORI
Adsorbsi adalah gejala mengumpulkan
molekul-molekul suatu zat (gas, zair) pada permukaan zat lain (padatan, cair)
akibat adanya kesetimbangan gaya .
Zat yang mengadsorbsi disebut adsorben dan zat yang teradsorbsi disebut
adsorbat.
Adsorben umumnya adalah padatan
sedangkan adsorbatnya umumnya adalah padatan sedangkan adsorbatnya adalah
caiaran atau gas.
Proses adsorbsi merupakan proses
kesetimbangan baik adsorbsi gas maupun cairan. Contoh proses adsorbsi yang
digunakan sehari-hari misalnya : penyerapan air oleh zat pengering,
penghilangan warna dalam industri tekstil.
1.
Pengeringan udara / pengambilan
uap air dengan silikgel
di laboratorium.
2.
Penghilangan zat warna, bau.
3.
Penghilangan zat warna pada
pabrik gula.
Proses adsorbsi
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor :
1.
Konsentrasi, makin besar konsentrasi
adsorbat maka jumlah yang teradsorbsi makin banyak begitu juga luas permukaan
kontak.
Makin halus / makin besar luas permukaan kontak maka
jumlah adsorbsi makin banyak.
2.
Temperatur, makin besar
temperatur maka adsorbi makin kecil karena proses adsorbsi merupakan proses
yang isotermal.
3.
Sifat adsorben dan adsorbat.
Proses adsorbsi dibagi menjadi 2 bagian :
a.
Proses adsorbsi kimia, yaitu
proses adsorbsi yang disertai dengan reaksi kimia. Pada adsorbsi ini terjadi
pembentukan senyawa kimia dan umumnya terjadi pada adsorbsi yang multi lapisan.
Contoh :
CO2 (g) + NaOH (p) à Na2CO3 + H2O
H2O (l) + CaCl2 (p) à
Ca(OH)2 + HCl
b.
Proses adsorbsi fisika, yaitu
proses adsorbsi yang tidak disertai reaksi kimia. Ikatan yang terjadi pada
proses ini adalah ikatan Van der waals yang relatif lemah. Pada adsorbsi ini
panas yang dilepaskan relatif kecil dan umumnya terjadi pada stu lapis
(monolayer).
Contoh :
Adsorbsi uap air dengan CaCl2 atau silika
gel.
Adsorbsi asam aseat, asam oksalat oleh karbon aktif.
Efektifitas adsorbsi makin tinggi jika kedua zat
adsorbat dan adsorben mempunyai polaritas yang sama. Beberapa persamaan
isotherm adsorbsi :
1.
Isoterm adsorbsi Freunlich
2.
Isoterm adsorbsi langmulir
3.
Isoterm BET
(Brunauer, Emmett, Teller)
Add 1. Isoterm
Freunlich
X = jumlah
zat (gr, mol) yang teradsorbsi oleh m gr. Adsorben.
C =
konsentrasi zat terlarut yang bebas.
k dan n =
tetapan isoterm Freunlich.
Persamaan ini berlaku untuk gas dan cair
V = K P1/n
V = jumlah
gas teradsorbsi persatuan massa
adsorben pada tekanan P
k dan n =
tetapan tekanan P
Add 2. Isoterm
Langmuir
Vm = volume gas yang
dibutuhkan
V = volume
gas yang sebenarnya menutupi satu satuan massa
adsorbsi pada tekanan P.
Add 3. Isoterm BET
Dimana :
Vm = kapasitas
volume monolayer
C = tetapan
isoterm langmuir
IV.
KESELAMATAN KERJA
-
Dalam percobaan ini yang harus
diperhatikan adalah pengenceran asam oksalat atau asetat dari konsentrasi pekat
ke konsentrasi yang diinginkan.
-
Juga pembuatan larutan NaOH 0,1
N harus menggunakan kaca mata dan sarung tangan karena bahaya terhadap mata dan
kulit.
V.
LANGKAH KERJA
1.
Menyiapkan 5 buah Erlermeyer 50
ml.
2.
Memasukkan masing-masing 0,5
gram karbon aktif. Sebelumnya dipanaskan selama ± 15 menit.
3.
Pada tiap Erlermeyer memasukkan
50 ml asam oksalat atau asam asetat.
4.
Mengocok campuran tersebut
selama 10 menit kemudian diamkan selama 1 jam.
5.
Mengocok lagi selama 1 menit
tiap 10 menit.
6.
Menaring larutan tersebut
dengan kertas saring.
7.
Mentitrasi filtrate dengan
larutan NaOH 0,1 N dan indicator fenolphtalin sampai terjadi perubahan warna
(jumlah fitrat yang dititrasi sebaiknya tidak sama antara konsentrasi asam
tertinggi dan yang terendah).
Catatan :
-
Jangan tinggalkan laboratorim
sebelum bersih.
-
Kembalikan semua alat yang
dipinjam ke gudang atau laborat.
VI.
DATA PENGAMATAN
|
No
|
m (gr)
|
Konsentrasi
|
X (gr)
|
(X/m)
|
Log (X/m)
|
Log C
|
|
|
Awal
|
Akhir
|
|
|
|
|||
|
1
2
3
4
5
|
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
|
1 M
0,8 M
0,6 M
0,4 M
0,2 M
|
0,99 M
0,88 M
0,8 M
0,6 M
0,35 M
|
3,3353
3,1721
3,0092
3,0002
3,0873
|
6,67
6,34
6,018
6,00
6,175
|
0,824
0,802
0,779
0,778
-0,791
|
-0,046
-0,055
-0,097
-0,222
-0,456
|
VII.
PERHITUNGAN
·
Pembuatan Larutan
-
Asam oksalat (C2H2O4)
1N, 250 ml,
Bm = 126,03 g/mol
Gr = N. V . BE
= 1 N
(0,25)(126,03/2)
= 15,76B gr
-
NaOH 1N, 250
ml
N1 = (0,6)(1000)/(40)
= 15 N
V1N1 =
V2N2
15N (V1) =
250 ML. 1N
V1 =
16,7 ML
·
Pengenceran
1) v1.m1 = v2.m2 2) v1.m1 = v2.m2
v1.1m = 50 ml.
0,8 m v1.1m = 50
ml. 0,6 m v1 =
v1 = 
v1 = 40 ml v1 = 30
ml
3) v1.m1 = v2.m2 4) v1.m1 = v2.m2
v1.1m = 50 ml.
0,4 m v1.1m = 50
ml. 0,2 m v1 =
v1 = 
v1 = 20 ml v1 = 10
ml
|
Konsentrasi
|
V NaOH
|
Perubahan Warna
|
|
1 M
0,8 M
0,6 M
0,4 M
0,2 M
|
9 ml
8,8 ml
8 ml
6 ml
3,5 ml
|
Merah Muda
Merah Muda
Merah Muda
Merah Muda
Merah Muda
|
·
Konsentrasi Akhir C
- 1 N oksalat 50 ml
V. N titran = v . N analit
9 ml. 1 N = 10 ml . N
N = 0,9 N
- 0,8 N oksalat 50 ml,
v . N titran = v . N analit
8,8 ml . 1 N = 10 ml . N
N = 0,88 N
- 0,6 N oksalat 50 ml,
v . N titran = v . N analit
8 ml . 1 N = 10 ml . N
N = 0,8 N
- 0,4 N oksalat 50 ml,
v . N titran = v . N analit
6 ml.1 N = 10 ml . N
N = 0,6 N
- 0,2 N oksalat 50 ml,
v . N titran = v . N analit
3,5 ml.1 N = 10 ml . N
N = 0,35 N
·
Penentuan massa absorbat
-
Asam oksalat
50 ml, 1 N
X = (massa
kertas saring + isi) – (massa kertas saring)
=
4,6407 – 1,3055
=
3,3353 gr
-
Asam oksalat
50 ml, 0,8 N
X = (massa
kertas saring + isi) – (massa kertas saring)
=
4,5206 – 1,3487
=
3,1721 gr
-
Asam oksalat
50 ml, 0,6 N
X = (massa
kertas saring + isi) – (massa kertas saring)
=
4,3436 – 1,3344
=
3,0092 gr
-
Asam oksalat
50 ml, 0,4 N
X = (massa
kertas saring + isi) – (massa kertas saring)
= 4,2780
– 1,2778
=
3,0002 gr
-
Asam oksalat
50 ml, 0,2 N
X = (massa
kertas saring + isi) – (massa kertas saring)
=
4,2201 – 1,1328
=
3,0873 gr
·
Penentuan log x/m
-
Campuran 1
x/m = 3,3353 gr/ 0,5 gr
= 6,67 gr
Log x/m =
0,824
-
Campuran 2
x/m = 3,1721 gr/ 0,5 gr
= 6,34 gr
Log x/m =
0,802
-
Campuran 3
x/m = 3,0092 gr/ 0,5 gr
= 6,018 gr
Log x/m =
0,779
-
Campuran 4
x/m = 3,0002 gr/ 0,5 gr
= 6 gr
Log x/m =
0,778
-
Campuran 1
x/m = 3,0873 gr/ 0,5 gr
= 6,175 gr
Log x/m =
0,791
|
Log x/m
|
Log C
|
XY
|
X2
|
|
0,824
0,802
0,779
0,778
0,791
|
-0,046
-0,055
-0,097
-0,222
-0,456
|
-0,0379
-0,04411
-0,07556
-0,1727
-0,36069
|
0,67897
0,6432
0,60684
0,60528
0,62568
|
|
|
|
|
|
- Slope (m) =

5(3,15997)
– (3,974)2
=
2,6
- Intersep =

=
- 2,2
y = 3,6227x – 3,0545
log k = intersep
log k = -0,3,0545
n = 0,276

VIII.
ANALISIS PERCOBAAN
Dari data pengamatan hasil percobaan
kami, dapat dianalisis bahwa terjadi proses adsorber pada percobaan dengan
menggunakan bahan padatan dari asam oksalat sebagai adsorbat. Konsentrasi yang
didapat, 1 N
= 0,9N, 0.8 N = 0.88, 0.6 N = 0.8N, 0.4 M = 0.6N, 0.2 M = 0.35N. Ini menyatakan bahwa
makin besar konsentrasi adsorbat maka jumlah yang teradsorbsi makin banyak.
Pada saat mentitrasi fitrat dengan larutan NaOH dan indicator fenolphtalin
terjadi perubahan warna menjadi merah muda.
Dari hasil
penyaringan, didapat massa absorbat pada 1N =3,3353 gr, 0,8N= 3,1721 gr. 0,6N=
3,0092gr. 0,4N= 3,0002gr, 0,2N = 3,0873 gr. Dari data tersebut dimana berbanding
dengan massa karbon sebagai sumbu x dan konsentrasi akhir sebagai sumbu y.
Sehingga dapat dibentuk grafik dengan persamaan y = 3,6227x – 3,0545. Dimana
3,6227 sebagai slope dan – 3,0545 sebagai intercept. Sehingga nilai n dapat
diperoleh dari 1/slope yaitu 1/3,6227 yakni 0,2760.
Ketidakakuratan data dikarenakan
beberapa faktor antara lain karena barang ketelitian dalam membuat larutan
maupun dalam titrasi fitrat.
IX.
KESIMPULAN
Berdasarkan data pengamatan dapat
ditarik kesimpulan bahwa :
1. proses adsorben adalah karbon aktif sedangkan asam oksalat sebagai
adsorbat.
2. Dengan hasil konsentrasi diatas maka dinyatakan bahwa makin besar
konsentrasi adsorbat maka jumlah yang teradsorbsi makin banyak.
3. Harga n yang diperoleh adalah 0,2760
X.
DAFTAR PUSTAKA
Tony Bird “Kimia Fisika untuk Universitas” P.T.
Gramedia, edisi I, halaman 90 – 92.
N. Glinka “General Chemistry” Peace Publisher Moscow,
hal. 400-407.

|
|
|
|
|
|





|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar